Make your own free website on Tripod.com

CONFIDENTIAL/LIMITED CIRCULATION TILL THIS REPORT IS COMPLETE

_______________________________________________________________________

PERISTIWA PENGHANCURAN JEMAAT DAN NEGERI KARIU

MINGGU 14 PEBRUARI 1999.

(Investigation by : Rev. J.Manuputty)

  1. PRA KONDISI PENGHANCURAN

  1. Sejak pecah kerusuhan Ambon tanggal 19/1/99, para penumpang angkutan laut yang berasal dari Negeri Kariu selalu ditolak keberangkatannya ke Ambon oleh para pemilik motor tempel, yang senantiasa berlabuh di daerah Wairiang (lokasi pemberangkatan motor tempel jurusan Ambon yang terletak didalam wilayah petuanan Negeri Kailolo).
  2. Demikian pula sejak kerusuhan Ambon sebagian warga negeri pelau mulai menolak membeli beberapa komoditi hasil kebun yang dijual warga negeri Kariu di Pelau.
  3. Mengantisipasi kondisi-kondisi yang berkembang pasca kerusuhan Ambon dan sekitarnya, maka atas prakarsa Muspika kecamatan Pulau Haruku dikondisikan suatu pertemuan dan percakapan bersama antara tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, para raja/kades, tokoh-tokoh pemuda sekecamatan Pulau Haruku pada tanggal 25/1/99 yang bertempat di Pelau. Dalam pertemuan ini dipercakapkan berbagai hal menyangkut isu-isu yang berkembang pasca kerusuhan Ambon, dengan tujuan untuk menangkalnya secara bersama di kecamatan Pulau Haruku. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam upaya bersama tersebut adalah kedekatan hubungan sosio-kultural antara Uli Hatuhaha dan Uli Buangbesy, sebagai dua rumpun klen besar di Pulau Haruku. Pertemuan tersebut akhirnya merujuk pada 5 butir kesepakatan bersama yang ditandatangani kemudian di Negeri Hulaliu. Adapun draft kesepakatan bersama tersebut antara lain memuat; Pengutukan tegas terhadap peristiwa tgl.19/1/99 di Ambon dan sekitarnya, serta meminta Pemda Tkt. I. Maluku untuk segera mengusut para pelaku berdasarkan produk perundang-undangan yang berlaku. Disamping itu disepakati juga perlunya meningkatkan persatuan dan kesatuan di Nusa Ama. Pada saat itu telah terjadi sedikit insiden di negeri Hulaliu ketika rombongan muspika tiba. Jelasnya terjadi sedikit keributan masyarakat yang ditujukan kepada Camat setempat (Pulau Haruku). Hal ini diakibatkan informasi keliru yang disampaikan camat dalam pertemuan sebelumnya dengan masyarakat Hulaliu, dimana Camat menginformasikan bahwa belum ada gereja yang dirusakan. Hal ini menyulut emosi masa (yang telah memperoleh informasi kerusakan gereja di Pulau Ambon sebelumnya), sehingga dalam pertemuan saat itu kekesalan masa ditumpahkan secara terbuka kepada Muspika setempat. Perlu diinformasikan bahwa keputusan rombongan untuk menandatangani kesepakatan bersama di Hulaliu, tak diikuti oleh Raja Kailolo yang saat itu memilih tinggal dan menunggu tim di Pelau. Kenyataan ini mengakibatkan masyarakat Hulaliu kemudian menuntut untuk menghadirkan Raja Kailolo sebelum draft kesepakatan bersama ditandatangani. tuntutan tersebut mengakibatkan Kapolsek Haruku berangkat untuk menjemput Raja Kailolo di Pelau, dan bersamanya datang ke Hulaliu. Setelah secara bersama menandatangani 5 butir kesepakatan itu maka semuanya segera kembali dalam suatu suasana kebersamaan yang kental.
  4. Pada tanggal 29/1/99 dari Yonif 733 BS datang 10 orang anggota yang kemudian dibagi pada beberapa pos penjagaan, yang dibuka dalam kordinasi bersama dengan muspika dan raja/Kades masing-masing lokasi pos. 10 orang anggota dengan komandan regunya Zafar Latuamury (beragama Islam, asal negeri Pelau) kemudian disebarkan pada 4 pos jaga masing-masing : Pos jaga di Negeri Kariu (mulanya 2 orang), Pos jaga di dusun Ori (Dusun Ori dihuni oleh penduduk asli yang terletak di dalam petuanan negeri Pelau, sebelah timur Negeri kariu), Pos jaga di dusun Waimital (Wilayah ini dihuni oleh sebagian besar penduduk asal sulawesi tenggara, merupakan satu dusun lain didalam petuanan negeri Pelau, yang berbatasan langsung dengan negeri Hulaliu) dan Pos jaga di wilayah Totu (terletak dalam petuanan negeri Haruku).
  5. Selanjutnya pada tanggal……….(saksi sudah tak ingat), menurut Raja Kariu datang penambahan petugas dari Yonif 733 BS sebanyak 16 orang. Dari antara mereka Kariu memperoleh tambahan 1 petugas lagi. Sebelumnya pada pagi hari datang perintis shabara sebanyak 10 orang, yang menurut Raja Kariu semuanya ditempatkan di Dusun Waimital. Sementara itu telah dibika lagi satu pos jaga di Dusun Nama (satu dusun lainnya didalam petuanan Negeri Pelau yang terletak diantara Dusun Ori dan Dusun Waimital, dan dihuni oleh sebagian besar masyarakat asal Sulawesi Tenggara). Di wilayah Negeri Kariu ketiga petugas dari Yonif 733 BS tersebut, masing-masing Yusuf Siah (beragama Islam dan beristrikan seorang wanita asal Negeri Pelau), M. Pattimura (beragama Islam, asal negeri Lattu/Seram), dan satunya Berto/nama sapaan (beragama Kristen) asal Biak-Irian Jaya (pangkat ketiganya…..?). Melalui kordinasi dengan perangkat negerinya, raja Kariu menempatkan mereka pada lantai atas kantor negeri Kariu, yang terletak dibelakang Gereja. Menurut informasi Raja kariu selama pelaksanaan tugasnya yusuf Siah dan M. Pattimura lebih banyak tidur dan makan di Negeri Pelau, atau di Dusun Ori, ketimbang di negeri Kariu sebagai lokasi stasioner mereka.
  6. Pada tanggal 29/1/99 sekitar jam 24. 45 terdengar sebuah ledakan (bom buatan ?) disamping rumah sdr. Pieter Ruhulessin, warga Kariu yang menetap di daerah perbatasan antara Kariu dan pelau. Oleh warga Pelau kemudian dikembangkan informasi bahwa masyarakat Kariu memasang ranjau disekeliling negerinya, dan salah satunya meledak karena terinjak anjing. Menurut Anjas Angkotasan sebagaimana yang disampaikannya kepada bpk. Chris Tupanuael dan bpk Ang Pariuri warga Kariu, bahwa yang melemparkan bom tersebut adalah Moh. Latukonsina, didampingi oleh Ustad Cale (guru agama di madrasah Ori), serta Hewa (marga…?). Sementara yang selalu menembak pada malam hari di daerah Pelau adalah Marjen (marga…?).
  7. Dalam kaitan yang sama, maka pada tanggal 05/2/99 Gubernur Maluku, Kakanwil agama, beserta Sekertaris Umum Sinode GPM dan beberapa rekan lainnya datang ke Pelau dalam suatu pertemuan bersama dengan unsur-unsur yang termuat dalam point sebelumnya. Kondisi saat itu dijelaskan Gubernur, sambil mengharapkan terciptanya kerukunan bersama antara semua pihak. Pejabat Raja Pelau yang berbicara mewakili umat Islam di Pulau Haruku, dalam percakapannya memberikan penekanan terhadap persatuan dan kesatuan di Kecamatan Pulau Haruku. Selanjutnya ia mengharapkan supaya aparat tak berpihak dalam penanganan masalah-masalah pasca kerusuhan ambon. Sementara itu Raja Kariu yang berbicara mewakili umat Kristen di Pulau Haruku, memeberikan penekanan yang sama tentang pentingnya memelihara persatuan dan kesatuan, sambil menekankan bahwa baik Islam maupun Kristen sesungguhnya bersaudara. Ia mengemukakan hubungan antara Pelau dan Kailolo sebagai contoh dari apa yang dimaksud. Disaat itu ketika Kakanwil agama berbicara terdengar beberapa teriakan "omong kosong" dari beberapa peserta Pelau yang ditujukan kepadanya.
  8. Pada tanggal 07/2/99 Pangdam Wirabuana bpk. Swaedy Marasabessy yang datang dari Ujung Pandang sempat menginap selama dua malam di Kailolo, daerah asalnya. Disana ia sempat melakukan pertemuan dengan masyarakat Kailolo, yang entah apakah semacam pertemuan silahturami biasa.
  9. Situasi yang berkembang memanas dan tak menentu di Ambon, semakin mengembangkan isu didalam masyarakat dan Jemaat Kariu tentang rencana penyerangan yang akan dilakukan terhadap Negeri kariu oleh beberapa negeri tetangga, a/l : Negeri Pelau, Negeri Rohomoni, Negeri Kabau, Negeri Kailolo, serta Dusun Ory. Isu rencana penyerangan ini antara lain disampaikan oleh sdr. Anjas Angkotasan (warga Negeri Pelau yang tinggal pada daerah perbatasan antara Pelau-Kariu, dan dianggap sebagai salah satu jagoan di daerah itu) kepada sdr Izak Pariury pada tanggal 9/2/99. Demikian pula menurut Anjas, sebagaimana yang disampaikan kepada Izak Pariuri dan beberapa teman di daerah kepala air "katong sudah baku biasa. Beta su pernah rasa, karena itu beta mau angkat bini anak lalu seng mau campur. Beta pung rumah pasti dong (orang Pelau) bakar, karena selama masalah beta pi-pi tarus. Pokoknya dong pindah bini anak sudah" (kita sudah biasa. Saya sudah pernah rasa, karena itu saya mau bawa pergi istri dan anak saya, karena tak ingin mencampuri. Rumah saya pasti dibakar mereka (masyarakat Pelau), karena selama masalah (ketegangan) saya pergi terus. Pokoknya kalian pindahkan istri dan anak-anak segera"). Izak kemudian menanggapinya, "Anjas, beta ini seng ada uang " ("Anjas, saya tak punya uang"). Anjas melanjutkan "Pokoknya ale liat trans satu, nanti beta yang bayar" ("Pokoknya kamu mencari satu transportasi, nanti saya yang bayar"). Disaat itu Anjas memberikan uang sebanyak Rp. 5000 kepada Izak, sambil melanjutkan "Kalau satu dua minggu seng jadi berarti seng sudah. Pokoknya dong harus jaga" (kalau dalam waktu seminggu atau dua minggu kedepan tak terjadi apa-apa berarti peristiwa itu tak akan terjadi. Pokoknya kalian harus berjaga"). Anjas bahkan sempat mengingatkan Izak "Ingatang jaga beta pung nama" ("Ingat, rahasiakan nama saya"). Peringatan yang sama disampaikan Anjas kepada Nicolas Radjawane, "Kalau beta seng dapa datang, beta angkat bendera putih, itu sudah tuch" ("kalau saya tak dapat datang, saya akan mengangkat bendera putih, tandanya penyerangan akan dimulai"). Sebagian masyarakat Negeri Kariu menganggap berita ini sekedar isu belaka, namun pengaruhnya terasa cukup menambah konsentrasi ketegangan masyarakat Kariu dari hari ke hari. Beberapa diantaranya lalu melakukan penanaman barang-barang berharga mereka, diseputar pekarangan rumah mereka.

Informasi yang sama disampaikan juga oleh sdr. Jefry Lessy (seorang murid SMU Pelau-Kariu yang memeluk agama Islam mengikuti ayahnya) kepada ibunya (beribukan seorang wanita Kariu beragama Kristen, yang telah ditinggalkan suaminya 14 tahun yang lalu) stelah kerusuhan Ambon meletus. Menurut Jefry dan juga ibunya (rekaman percakapan dan surat pernyataan terlampir) beberapa waktu sejak pecahnya kerusuhan di Ambon, ia telah mendengar di Ory bahwa orang Kailolo dan Pelau telah bersatu untuk menghancurkan Negeri Kariu. Informasi tersebut disampaikan kepada ibunya untuk diteruskan pada keluarga lain di Kariu. Oleh ibunya informasi tersebut disampaikan kepada saudara-saudaranya di Kariu. Informasi tersebut dikembangkan sampai ke Polsek Pelau oleh warga Kariu, namun kemudian diselesaikan secara kekeluargaan oleh keluarga dengan pihak Polsek. Dalam perkembangan selanjutnya, baik Jefry maupun ibunya telah melihat berbagai persiapan perang yang dilakukan di Ory. Misalnya oleh mereka terlihat Bpk. Rasyid Tualeka yang membuat panah di Ory. Demikian pula Jefry melihat adanya warga Ory yang membeli kawat tembaga di PLN Kariu yang berkedudukan di Ory, untuk membuat panah. Atau pula bpk. Dulah Sangaji yang membuat bom di Ory dari botol-botl cuka kecil. Menurut Jefry setiap percakapan menyangkut persiapan di Ory, selalu diwanti-wanti oleh mereka untuk tidak disampaikan Jefry kepada ibunya. Termasuk percakapan (Jefry sudah lupa tanggalnya) persiapan penyerangan yang harusnya dilakukan sebelum tanggal 14/2/99, namun kemudian tertunda.

10. Pada tanggal 10/2/99 rumah sdr Yunus Sinay (telah ditinggalkan pemiliknya karena ketakutan) yang terletak pada tapal batas (tepatnya sudah memasuki wilayah petuanan Pelau) antara Kariu dan Pelau dirusakan pintu dan jendela-jendelanya oleh orang-orang yang tak dikenal.

  1. Kamis - 11/2/99, sekitar jam 02.30 dinihari rumah yang bersangkutan
  2. kedapatan terbakar. Disaat itu terdengar suara ribut masa di wilayah

    Pelau, bahkan ada yang berteriak "maju, maju". Kemudian terdengar

    dua kali bunyi tembakan dari arah Pelau. Sesaaat kemudian muncul

    beberapa anggota tentara dari arah dusun Ori ke arah TKP. Selanjutnya

    mereka berjaga-jaga di jembatan samping TKP (jembatan sungai Wai

    Marake). Pagi harinya ketika kebakaran tersebut dikonfirmasikan

    kepada pemilik tanah (warga Pelau, nama….?), disampaikan bahwa

    pembakaran tersebut dilakukan oleh anak-anak dari daerah kusu-kusu

    (alang-alang) di daerah Masanai (dataran tinggi di belakang negeri

    Pelau).

  3. Jumat - 12/2/99 sdr. Semy Matulessy mendatangi Pdt. Jemaat Hulaliu, sdr. Nus Patinama dan menginformasikan bahwa para pemuda negeri Pelau telah membotaki kepala mereka. Hal ini harus diwaspadai karena membotaki kepala pada hari jumat lazimnya dilakukan sebagai suatu bentuk ritual kekebalan (ritual "HAHI") secara adat. Menurut Semy "kita harus hati-hati, jangan sampai dorang (mereka) mau menyerang Kariu". Selain Semy banyak warga Kariupun telah melihat penggundulan kepala dari banyak pemuda Pelau dan Kailolo pada hari-hari sebelumnya.

  1. SABTU TEGANG – 13 PEBRUARI 1999

  1. Sabtu subuh sekitar jam 02.30 terdengar dering telpon di pastori Jemaat Kariu. Ketika teplon diangkat oleh istri Pendeta Aihuan terdengar suara yang mengatakan "ini dari posko Maranatha (di Ambon)", selanjutnya penelpon memberitahukan akan ada penyerangan dan kemudian menutup telpon. Istri pendeta tak mempercayai hal itu dan menelpon balik ke posko Maranatha untuk memastikan berita tadi. Diperoleh jawaban ternyata tak ada yang menelpon ke Pastori Kariu dari posko Maranatha.
  2. Kurang lebih jam 07.00 terjadi pengrusakan jaring milik sdr. Izak Patiwael (warga kariu) yang sementara dilabuhkan di pesisir pantai Negeri kariu, oleh beberapa orang yang berpakaian putih. Peristiwa tersebut sempat dilaporkan kepada aparat kemanan. Namun ketika pemilik jaring dan petugas menuju lokasi kejadian, para perusak tadi telah pergi.
  3. Sekitar jam 09.30 tiga orang warga Kariu yang sedang menuju ke kebun mereka, masing-masing : sdr.Stevi Talakua; sdr.Izak Nahusona; Mathyas Leatomu dipukul oleh seorang petugas di pos jaga Dusun Nama (apakah karena membawa parang/golok….?).
  4. Sekitar jam 15.00 sdr. Jance Pariury mengemudikan mobil truk mini dari arah Negeri Kariu menuju Negeri Hulaliu. Sesampainya ia di Dusun Nama kendaraannya dihentikan oleh dua (2) orang petugas (tentara) di pos penjagaan, untuk ditumpangi menuju pos penjagaan Dusun Waimital. Di pos penjagaan Dusun Waimital Babinsa Timisela menghentikan mobil dan memanggil dua petugas yang menumpanginya, sambil menegur mereka untuk memperhatikan masyarakat yang meletakan paku di jalan raya daerah Waimital. Sekembalinya Jance dari Hulaliu ia kembali dihentikan di pos jaga Waimital. Disaat itu petugas pos jaga di Dusun waimital sdr. Amirudin menghampiri Jance dan memukulnya dari arah kanan kaca pintu samping yang terbuka. Jance segera menanyakan alasan pemukulannya ("mengapa beta dipukul?"). Jawaban Amirudin "kalau jalan harus hormat", "Dasar kamu orang Kariu kita datang kesini". Jance sempat memohon maaf sebanyak empat kali. Amirudin selanjutnya mengatakan "dasar orang Kariu RMS". Setelah sebuah mobil berpelat hitam melewati lokasi pos jaga tersebut, Amirudin memerintahkan Jance untuk menjalankan kendaraannya.
  5. Sekitar jam 17.00 datang M. Pattimura (anggota pos jaga Kariu) ke
  6. rumah raja Kariu dan menyatakan bahwa malam itu pos jaga diwilayah kariu akan ditarik ("malam ini ada cabut pos Kariu"). Menurut Raja sebagaimana yang disampaikannya kepada petugas tersebut, kalau cabut pos harus dibicarakan dengan raja terlebih dahulu. Paling tidak ada pemberitahuan dari muspika, sebagaimana pada awal pos dipasang. Menurut M. Pattimura ia akan menyampaikannya kepada Danrunya, dan kemudian ia bergegas pergi.

  7. Sekitar jam 18.30 datang lagi di rumah Raja kariu Danru Zafar Latuamury, Yusuf siah, Berto, dan Loukaki (beragama Islam, asal Negeri Rohomoni-Pulau Haruku) untuk menegaskan pencabutan pos malam itu. Oleh raja ditanggapi bahwa "masih butuh keamanan karena kondisi belum baik, contohnya orang kailolo belum terima orang Kariu untuk ke Ambon dari pelabuhan speed boat di Wairiang-wilayah Kailolo". Menurut Danru "ini berdasarkan perintah atasan supaya semua pos gabung di Dusun Nama". Selanjutnya raja sempat menanyakan "apakah dari Totu (pos jaga di perbatasan negeri Haruku-Sameth yang beragama Kristen, dan terletak sekitar 15 km sebelah barat Negeri Pelau.) juga bergabung". Menurut Danru karena jarak yang agak jauh dan kesulitan kendaraan, maka pos Totu baru akan bergabung besoknya. Setelah itu Danru dan Loukaki kembali, sementara ketiga anggota pos jaga kariu masih ditahan di rumah raja untuk santap malam perpisahan. Terhadap ketiganya raja sempat mengharapkan supaya masih memonitor Kariu, sekalipun tak lagi bertugas disitu. Dengan singkat mereka menjawabnya "bersedia"

  1. HARI PENYERANGAN – MINGGU 14 PEBRUARY 1999.

    1. Minggu dinihari, sekitar jam 03.30 terjadi pemadaman lampu listrik di Pulau Haruku (informasi ini sudah dikonfirmasi juga ke Negeri Hulaliu, Oma, dan Aboru). Informasi yang didapat kemudian bahwa kepala PLN pulau Haruku adalah sdr. Sam Salampessy. Sesaat kemudian terlihat ada kebakaran di daerah perbatasan antara Pelau dan Kariu. Serka P. Loupaty (anggota Polsek Pelau yang menetap di Kariu) kemudian menuju TKP untuk memeriksa. Terdengar kemudian satu bunyi tembakan, yang disusul sebuah ledakan bom dari arah Pelau. Terjadi kepanikan ditengah masyarakat Kariu. Pendeta Jemaat Kariu, bpk Ari Ayhuan bersama sdr. Christian Tupanuael memutuskan untuk memeriksa lokasi kebakaran. Ditemukan disana rumah kel. Pieter Ruhulessin telah terbakar (rumah ini oleh penghuninya telah pula ditinggalkan sebelumnya karena ketakutan). Beberapa waktu kemudian terlihat empat enggota tentara bergegas dari arah Ori melintasi Kariu dan menuju ke arah Pelau. Mereka kemudian terlihat berjaga di atas jembatan sungai Wai Marake. Pada saat yang sama bpk. M. Pattirajawane (ketua keamanan masyarakat Kariu) telah melihat adanya penyusupan masyarakat Pelau ke daerah pantai, namun belum sampai pada wilayah perbatasan Kariu. Demikian pula pos penjagaan di sektor timur memantau datangnya speed boat Reynolds milik raja Pelau yang segera berlabuh di pesisir pantai Ori.
    2. Pdt Ari segera kembali ke pastori dan selanjutnya berdoa secara pribadi, untuk kemudian keluar dan menganjurkan umatnya untuk bersiaga. Tujuh pos penjagaan disiagakan penuh, masing-masing: dua buah pos jaga arah barat, yaitu pos jaga daerah bak air Marake, dan pos jaga daerah kaki air Marake; Pos jaga arah Timur, masing-masing, pos jaga daerah mata air Oruku, dan pos jaga pada jalan raya Kariu-Ori; Pos jaga arah selatan masing-masing, pos jaga daerah dataran tinggi pada wilayah belakang Negeri kariu menuju hutan, dan pos jaga sekitar lapangan bola; Pos jaga arah selatan pada lokasi jalan menuju pelabuhan laut. Sementara itu para ibu dan anak-anak kecil diminta diam dan berdoa, supaya tak terdeteksi posisi umat Kariu didalam kegelapan.
    3. Tepat jam 05.30 sdr. Obed Inuhan (guru Agama SMA) berlari datang dari pos jaga daerah pantai dan memberitahukan pada pendeta Ari bahwa masa dalam jumlah ribuah sudah menyerbu masuk lewat daerah pesisir pantai yang sedang berada dalam kondisi pasang surut ("bapak dorang/mereka sudah mulai serang"). Mendengar berita itu pendeta Ari segera masuk dan berdoa di pastori. Kemudian keluar dan berteriak "siap", kemudian bergegas bersama lebih kurang 30 orang anggota jemaatnya untuk bergabung di daerah pantai. Diantaranya terdapat beberapa wanita dewasa. Terlihat masa dari arah barat dalam jumlah sangat banyak (ribuan), berjalan teratur sambil mengenakan pakaian atasan putih yang sama modelnya. Sebagian besar dari mereka mengenakan sorban putih, dan bercelana panjang putih. Diantaranya ada yang memakai ikat kepala yang juga putih. Teriakan Alahu Akbar terdengar berulang dalam ritme yang sangat teratur. Sesekali diselingi dengan beberapa yel-yel yang juga diteriakan dalam ritme teratur a/l : "bunuh Pendeta Ayhuan, 500 juta", "bakar Gereja, 1 milyar", "bunuh raja". Terlihat masa membawa berbagai perlengkapan tempur seperti parang, tombak, panah, dan sebagian besar menenteng jerigen ditangannya. Didepan masa terlihat seseorang yang selalu memutar-mutarkan parangnya sambil sesekali melemparkannya ke udara (apakah pemimpin masa….?). Pertempuran terbuka yang tak berimbang segera terjadi, yang diawali dengan cara saling mengejek dan melempar batu (menurut pendeta Ari, yang sangat diandalkan dari umatnya hanya sekitar 68 orang). Berbagai senjata tajam segera beradu disepanjang pesisir pantai Kariu pagi itu.
    4. Pada pukul 06.00 Raja Kariu, bpk. A. Pattinasarany sempat menelpon POSKO Maranatha di Ambon dan mengatakan bahwa "Kariu sudah diserang". Demikian juga lewat telpon dihubungi Pdt. A.N. Radjawane serta beberapa warga asal Negeri Kariu yang berada di Kota Ambon untuk meminta bantuan. Demikian pula yang bersangkutan menelpon Raja Haria dan pendeta Porto di pulau saparua untuk meminta bantuan (oleh Raja Haria kemudian ditugaskan seorang kurir untuk memberitahukan beberapa negeri di wilayah selatan pulau Haruku, yang ketika dikonfirmasi ulang sedang mengadakan ibadah minggu saat itu) Ketua Sinode menelpon Raja Kariu kemudian dan memastikan telah kordinasi terkait dengan DANREM, POLDA, dan POLRES. Selanjutnya Ketua Sinode GPM memastikan bahwa "nanti sekitar jam 09.00 pagi bantuan akan datang dengan menggunakan dua helikopter. Salah satunya berisi DANREM dan DANDIM, dan lainnya berisi beberapa anggota".
    5. Selang beberapa menit kemudian penetrasi masa dari arah jembatan sungai Marake menuju wilayah kariu juga sudah dimulai. Raja Kariu menginformasikan bahwa beberapa waktu sebelum penetrasi dilakukan terlihat empat orang tentara berjaga diatas jembatan sungai Marake. Sementara sepanjang talut sungai di daerah Pelau terlihat masa penyerang berdiri dalam jumlah yang sangat banyak. Disaat penetrasi dilakukan melalui jembatan, menurut Mozes Patirajawane hanya terdapat dua anggota tentara yang terdesak mundur oleh masa penyerang, dan kemudian mengambil posisi disekitar SMU. Sementara itu dua anggota lainnya yang semula berada di jembatan terlihat mengambil tempat disekitar sungai yang berseberangan dengan asrama Polsek Pelau. Penetrasi masa terus dilakukan secara bergelombang, karena anggota tentara yang semula mengeluarkan tembakan peringatan tak lagi melakukannya. Dihadapan masa yang masuk dari atas jembatan terlihat seorang wanita dengan rambut terurai dan berpakaian putih yang sama, melakukan tari-tarian yang sangat dinamis dan membakar semangat.
    6. Pertempuran dipesisir pantai terus berkecamuk, dan terlihat dua orang pihak penyerang tergeletak tak bergerak. Nampak kemudian dua petugas polisi datang, menyeberang dari belakang asrama Polsek Pelau, menyusur tepi sungai dan mengambil tempat diantara kedua kelompok masa yang sedang bertikai, dan sesekali mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Kedua anggota polsek Pelau yang diidentifikasi sebagai Serka Mato dan Kopral Izak Latumahina kemudian terlihat mengambil tempat yang berdekatan dengan masa penyerang, dan berbalik menghadap masa Kariu untuk selanjutnya mengarahkan tembakan ke arah masa Kariu yang sedang bertahan, sambil sesekali terlihat tangan Mato memberi aba-aba bagi masa penyerang untuk maju (melambaikan tangannya). Masa Kariu bersama pendeta Ari tetap bertahan dalam jumlah yang sangat tak berimbang (lebih kurang 100 orang berhadapan dengan ribuan masa).
    7. Disektor timur masa penyerang dari Dusun Ori mulai mendesak masuk dari arah kaki air Oruku, disekitar rumpun mangrove (mange-mange). Sebelumnya terlihat dilakukan pelemparan batu yang sangat banyak dari arah perbatasan Ori ke rumah-rumah penduduk Kariu yang tinggal di perbatasan Ori-Kariu. Penetrasi pertama didaerah ini dilakukan oleh kurang lebih 10-15 orang. Disaat itu terlihat 2 anggota tentara yang sedang berjaga di jalan raya sektor timur menuju Ori. Beberapa orang dari Kariu dapat segera mengidentifikasi anggota tentara tersebut, yang tak lain adalah Yusuf Siah dan M. Pattimura, yang sebelumnya bertugas di pos jaga Kariu (sebelum pos dicabut hari Sabtu malam). Yosias Patiwalapia yang memantau penetrasi ini segera memberitahukannya kepada pos jaga yang terletak di arah Timur dan selatan. Disaat ia bergegas untuk memberitahu, terlihat olehnya satu diantara anggota tentara yang disebut diatas melompat menuju kaki air Oruku, dan bergabung dengan masa penyerang sambil sesekali melepaskan tembakan peringatan. Penetrasi Ori dari sektor Timur kemudian terlihat bertambah banyak setelah kedua anggota tentara yang diidentifikasikan diatas terlihat bergabung dengan masa penyerang, sambil memberi aba-aba lewat lambaian tangan kepada masa untuk segera merengsek maju. Sementara itu menurut Nus Leatomu, serombongan wanita Ori berdiri pada gundukan tanah yang agak tinggi, terletak dibawah pohon kenari di kaki air Oruku. Dengan sangat dinamis dan lantang mereka melafalkan teriakan "Alahu Akbar" serta beberapa lagu bernuansa Islam sambil setiap kali membakar semangat para lelaki Ori yang bergerak maju. Salah seorang lelaki berbadan kekar terlihat melambai-lambaikan bendera putih, sebagai tanda komando bagi masa penyerang untuk masuk. Pembakaran terhadap beberapa rumah yang terletak diperbatasan Kariu-Ori segera terlihat. Rumah pertama yang dibakar adalah milik keluarga Labang Matahelumual. Selanjutnya diikuti dengan rumah milik Lebrina Manduapessy dan yang lainnya. Terlihat masa penyerang segera dihadang dan dihalau oleh para personil pos pos jaga Kariu yang memang telah bersiap di sektor timur dan sebagian selatan (penentuan tugas memang sudah diatur bagi setiap regu. Ditetapkan bahwa untuk menghindari infiltrasi lawan, maka setiap regu disemua sektor tetap mempertahankan wilayahnya, tanpa harus bergabung dengan regu sektor lainnya). Dipantai Ori terlihat speed boat Reynolds yang lainnya datang lagi, sambil menerunkan beberapa orang yang memikul beberapa karung.Diduga karung-karung tersebut berisi bom-bom buatan. Sementara didepan pesisir kariu terlihat banyak speed boat yang berlabuh dan lalu-lalang. Termasuk beberapa speed boat yg datang dari arah Negeri Liang di Pulau Ambon. Perang terbuka pecah lagi disitu. beberapa saat kemudian terlihat tujuh orang dari masa penyerang tergeletak tak bergerak (mati….?). Hal ini mengakibatkan masa penyerang agak mengendorkan desakannya untuk bergerak maju, dan sekitar jam 10.00 perlahan-lahan menarik diri.
    8. Sekitar jam 08.00, Disektor barat wilayah kaki air Marake pertarungan terus berlangsung dengan sengit. Terlihat masa penyerang mulai membakar rumah-rumah penduduk Kariu yang terletak disekitar jembatan yang melintang diatas sungai Marake. Ironisnya pembakaran dilakukan disamping petugas polsek maupun tentara yang tak bertindak apapun untuk menghalau mereka. Masa Kariu bersama pendeta Ari tetap mencoba untuk menghambat gerak maju masa penyerang. Dua orang dari masa penyerang kemudian terlihat tergeletak tak bergerak.
    9. Sementara itu diwilayah atas jembatan masa penyerang telah berhasil masuk dalam jumlah yang sangat banyak (ribuan), dan melakukan penyebaran sampai pada sebagian daerah selatan Kariu (arah bak air Marake dan lapangan bola). Didalam tekanan bergelombang seperti itu pos-pos jaga Kariu yang ada di daerah itu segera membubarkan diri, dan para personilnya bertempur secara acak diantara perumahan penduduk yang tersebar. Pertarungan terbuka semakin memanas. Terdengar bunyi tifa yang ditabuh bertalu-talu dari baileo negeri untuk menyemangati petarung Kariu. Demikian juga bunyi tahuri (kulit kerang/siput besar) yang ditiup sambung menyambung oleh bpk. MinggusTakaria (dari soa/klen yang secara adat bertugas untuk meniup tahuri negeri Kariu). Para wanita tak ketinggalan memberi semangat sambil mempersiapkan makanan di garis belakang untuk disuplai bagi para lelaki yang sedang bertarung. Secara bersamaan mereka membunyikan berbagai bunyi-bunyian. Antara lain botol, tiang listrik dan sebagainya. Beberapa diantara mereka sambil menggenggam perang dan tombak bahkan bertarung bersama para lelaki di garis depan. Antara lain Nn. Lady Leleh (seorang siswi SMU), Cory Schaduw, Erna Salaka (yang bertarung di garis pantai, dan terkadang memarahi serta membentak para lelaki bila mengendorkan serangan mereka). Entah dari mana munculnya, Andre dan Michael Pattirajawane serta beberapa teman lainnya melihat Danru Zafar Latuamuri telah berada diantara masa penyerang disektor pertempuran itu. menggunakan pakaian putih yang sama, dan memakai ikat kepala putih. Sambil tiarap di depan rumah Dominggus Tupalesy (lebih kurang 50 meter dari menara telkom), Zafar melepaskan tembakan ke arah masa Kariu (di lokasi ini Dominggus Pattirajawane tertembak dadanya. Tepatnya disamping rumah Raja kariu).
    10. Sekitar jam 11.00 masa penyerang sudah mulai menguasai daerah ini. Terlihat kemudian rumah kel. Kornelis Pattirajawane II terbakar, dan diikuti dengan pembakaran rumah-rumah lainnya. Melihat kondisi tersebut Raja Kariu segera meninggalkan rumahnya untuk memantau pertempuran diwilayah lainnya. Malang tak dapat dihindarkan, didalam kepanikan raja melupakan ayahnya yang tertinggal didalam rumah. Melihat hal itu dengan garang masa mulai melanjutkan pembakaran pada rumah raja, bersama dengan ayahanda raja, bpk. Elia Pattinasarani yang telah berusia 95 tahun. Menyadari hal itu, raja hanya dapat menatap dari kejauhan sambil bercucuran air mata. Selanjutnya dilokasi sekitar itu Yohanis Pattirajawane/Ngais ditemukan terluka pada kepalanya akibat tebasan parang masa penyerang. Ia kemudian dipikul pergi oleh Ais Pattirajawane/Moges. Terlihat kemudian bahwa penetrasi juga mulai dilakukan dari arah sungai Marake. Seorang anggota masa penyerang kedapatan menyelinap naik dari arah sungai, dan mulai membunuh ternak sapi warga Kariu yang kebetulan terjebak disekitar sungai. Naas baginya karena ia kemudian terbunuh oleh masa Kariu yang melihatnya. Melihat masa yang semakin mendesak para petarung Kariu yang ada disitu kembali menggertak maju, dan masa terlihat mundur kembali secara menyebar.
    11. Pertarungan di wilayah pesisir berlangsung sengit. Masa Kariu tetap bertahan sambil menyebar dari pesisir sampai ke daerah belakang SMU dan jalan desa menuju pelabuhan. Pada sekitar jam 11.00 Paul Pattiwalapia III/Aliamu melihat sdr. Yohanes Radjawane tertembak di jalan beton turun ke daerah pesisir, samping rumah Karel Pattirajawane I. Menurut tuturan beberapa saksi mata (dirahasiakan) Yohanes ditembak oleh Serka Mato dari arah pesisir pantai. Oleh Dance Pariury ia diangkat, dan Dance menemukan sebuah lobang terbuka dibagian belakang kepalanya. Menyadari ia sudah tak tertolong lagi, jenazahnya kemudian digotong menuju rumah Petrus Werinusa oleh bpk. M. Pattirajawane dan Yacob Patiwalapia. Sementara itu pertempuran berlangsung memanas, namun menyadari bahwa tembakan yang dilepaskan petugas sudah mengarah langsung pada mereka, maka masa Kariu mulai terdesak dan perlahan mundur memasuki pusat perkampungan. Disaat itu terlihat masa Ori kembali melakukan penetrasi lewat arah pesisir pantai, menuju jalan naik talut di pelabuhan. Mereka kemudian membakar rumah Bob Takaria, dan rumah-rumah lainnya di jalan turun menuju pelabuhan.
    12. Disaat yang sama terdengar dan terlihat dua buah helikopter melayang berputar diatas lokasi pertempuran. Beberapa waktu kemudian terlihat oleh pendeta Ari, datang beberapa petugas polisi dari arah Pelau, yang ternyata seorang Pamen berpangkat Letkol, dan satunya berpangkat Mayor (pendeta Ari mengidentifikasikan dari tanda pangkat yang terletak diatas bahu keduanya). Nama keduanya tak secara teliti diperhatikan, karena konsentrasi pendeta Ari lagi terpecah. Menurut pendeta keduanya disertai dengan beberapa orang anggota polisi. Dua orang diantaranya dapat dikenali, yakni sdr. George Siahaya (dikenal karena sebelum bertugas di Ambon, pernah juga bertugas di Polsek Pelau. Selain itu turut juga Letda Bormasa (Ket: Sewaktu Posko Maranatha mengkonfirmasikan keadaan Kariu dan Pelau lewat telpon ke kantor kecamatan Pulau Haruku pada sekitar jam 01.00 siang, penerima telpon mengidentifikasikan dirinya sebagai Letda Bormasa, dan memberikan keterangan bahwa keadaan sudah teratasi). Kedua Pamen tersebut sempat berdialog terbatas dengan pendeta Ari. Ketika pendetas Ari mengomentari kondisi yang sedang terjadi, oleh mereka dijawab "sudah pak diam saja, nanti aman". Selanjutnya mereka kembali ke arah Pelau. Tak lama kemudian kedua helikopter tersebut kembali berputar-putar diatas lokasi pertempuran. Salah satunya kemudian pergi. Sementara lainnya menganjurkan masa untuk mundur, sambil berteriak berulang kali "semua diminta pulang"
    13. Kurang lebih jam 12.30 di week Bethlehem, bagian kiri belakang negeri (Selatan) para ibu, anak-anak, dan orang tua lanjut usia mulai mempersiapkan diri dan melakukan evakuasi secara bertahap melalui jalan Naang, jalan kecil menuju hutan yang anehnya tak terlihat masa penyerang yang berjarak lebih kurang 30-40 meter dari mereka. Sebelum berangkat, beberapa lelaki (antara lain Chris Pariury) mencoba memantau keamanan jalur pintas tersebut. Setelah keamanan dipastikan mereka berkemas dan pergi apa adanya tanpa suara tangisan, hanya air mata yang berurai keluar. Diantara mereka terdapat beberapa ibu hamil. Antara lain Ny. Yo Loupatty-Werenusa (istri anggota Polsek Pelau) yang melahirkan setibanya di Aboru. Atau juga Ny. Ama Nahusona yang baru saja melahirkan pada malam (tgl.13), sebelum kejadian tersebut pecah. Sementara itu di wilayah pertempuran terlihat sekitar 8 orang anggota Brimob memasuki lokasi pertempuran, dan sempat bersalaman dengan Pendeta. Mereka menganjurkan kepada Pendeta untuk meminta masa Kariu mengundurkan diri, sebab mereka datang untuk menjaga keamanan. Terlihat mereka menyebar dan berjaga-jaga, sambil berteriak "semua mundur, baik Kariu maupun Pelau". Teriakan demi teriakan tak berarti apapun karena mereka tak mengambil tindakan apapun terhadap keberingasan masa penyerang yang bebas membakar perumahan penduduk. Bahkan yang dilakukan tepat disamping mereka.
    14. Kurang lebih jam 12.15 empat kakak beradik yang selalu bertempur bersama, masing-masing Fredy, Rudy, Jery, dan Andrian Wattimena dikejutkan dengan tertembaknya Dominggus Tupalesy/Doka yang berada disamping mereka, sekitar rumah Silas Pariury (jarak lokasi tertembaknya Dominggus dan Yohanes kurang lebih 200 meter). Mereka segera menghampirinya dan melihat luka tembakan telah mengeluarkan banyak darah dari wilayah lambung. Fredy segera menggotong jenazah Dominggus dan melarikannya ke rumah Dance Pariury.
    15. Pertarungan yang terjadi disekitar wilayah menara telkom dan bak air Marake berlangsung terus. Para petarung Kariu diwilayah ini bertarung diantara rumah demi rumah yang terbakar, dan membanjiri wilayah tersebut dengan genangan-demi genangan darah dari tubuh-tubuh penyerang yang bergelimpangan sana-sini.
    16. Inilah wilayah pertahanan diri terhebat dari masa Kariu, dimana para petarung Kariu membantai begitu banyak masa penyerang. Meskipun demikian pelapisan masa penyerang yang sangat padat mengakibatkan mereka mulai menguasai daerah itu, dan semakin banyak membakar rumah penduduk. Zafar Latuamury terlihat berlari bolak-balik di lokasi itu sambil membaur dengan masa penyerang, dan sesekali mengeluarkan tembakan ke arah masa Kariu. Sekalipun satu demi satu dari mereka berguguran akibat hadangan masa Kariu, namun dengan leluasa mereka tetap dapat melakukan pembakaran karena jumlah masa yang sangat tak berimbang. Sekitar jam 12.00 sdr. Hanny Werenussa terkena panah masa penyerang, yang kemudian oleh Raja ia dibawa ke suster An Rajawane dan Yaya Patiwalapia untuk mendapat perawatan. Pada waktu yang bersamaan nampak api mulai berkobar di gedung SDN Kariu yang baru selesai dibangun. Sementara perumahan penduduk semakin banyak yang terbakar. Disaat itu terlihat Danru Zafar Latuamury telah menanggalkan pakaian putihnya dan berpakaian loreng tentara, hanya bolak-balik melintasi lokasi kebakaran.

    17. Sekitar jam 12.30 Raja bertemu dengan empat petugas Brimob
    18. di pertigaan jalan turun ke pelabuhan. Dua diantaranya sempat teridentifikasi sebagai Johny Wasia (sersan…./satu ekor ikan), dan temannya…….Huwae. Segera Raja meminta dua teman mereka yang lain untuk segera menuju bagian belakang negeri, karena pembakaran berlangsung semakin hebat disitu. Selanjutnya mereka pergi, sementara Raja berbicara dengan kedua anggota yang teridentifikasi tadi. Raja segera memperkenalkan dirinya sebagai kepala desa "Beta kepala desa. Beta punya orang tua mangkali/mungkin sudah terbakar". ‘Sekarang beta serahkan gedung Gereja kepada dorang dua, supaya masa jangan bakar". Mereka selanjutnya menjawab "katong akan upayakan". Raja kemudian bergegas memeriksa rumah demi rumah yang terlihat belum dimangsa api, guna menemukan kemungkinan orang-orang yang masih tertingga. Setelah dipastikan tak ada lagi yang dirumah, sekitar jam 13.00 Raja menyusul masuk hutan.

    19. Kurang lebih jam 14.00 masa sudah merengsek masuk sampai
    20. kelokasi jalan didepan Gereja. Pendeta segera menghampiri seorang petugas Brimob yang lagi berjaga. Terjadi dialog singkat, a/l; Ia mengaku sebagai seorang pemeluk Kristen yang baru kembali dari tugas di Tenggara, dan menemukan rumahnya sudah terbakar (entah dimana). Pendeta segera menanyakannya, "bagaimana gedung Gereja ?". Singkat dijawabnya "itu dijamin". Pendeta segera melanjutkan "O’k kalau begitu tolong selamatkan gedung Gereja". Ia memastikan jaminannya, "O’k beres". Setelah dialog tersebut pendeta Ari segera meninggalkan lokasi dan sendirian menuju hutan melalui jalan Naang. Menarik untuk mencermati keterangan anggota Brimob Johny Wasia (anggota Brimob Tantui-Ambon yang saat itu diberi kepercayaan oleh Raja Kariu dan Pendeta Ary untuk menyelamatkan Gereja) dalam pertemuannya dengan Raja dan Pendeta Kariu di Hulaliu dua hari kemudian (selepas makan siang), bahwa mereka ternyata tak dapat berbuat banyak karena besarnya jumlah masa yang tak berimbang dengan jumlah petugas yang ada. Berdasarkan perbandingan itu mereka merasa terancam ditengah masa. Selanjutnya ia menjelaskan, ketika gereja hendak dibakar ada seorang tua asal Pelau yang menghalangi masa sambil menyebutkan "kalau kamorang mau bakar rumah silahkan, tapi rumah ibadah jangan dibakar". Sejenak masa penyerang terdiam didepan gereja dan terkesan akan mematuhinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda (menurut Johny seperti seorang mahasiswa), berdiri diatas pagar gereja dan memanasi masa, seraya berteriak berulang kali "bakar gereja" (informasi lanjut yg berhasil diperoleh dari kesaksian seorang mahasiswa Universitas Darusalam Ambon – nama dan kesaksiannya direkam dan ditandatangani oleh yg bersangkutan – bahwa yang memerintahkan dan turut membakar gereja kariu saat itu adalah Abdurahman Marasabessy, seorang mahasiswa Universitas Darusalam Ambon- Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen). Masa kembali tersulut dan bergegas untuk membakar gereja. Sebelumnya beberapa petugas mencoba menerobos masuk untuk menemukan kemungkinan adanya orang Kariu yang berlindung didalam gereja. Didalam ternyata mereka menemukan seorang tua yang buta matanya, bersimpuh didepan mimbar pemberitaan firman dengan mengenakan pakaian hitam (pakaian gereja khas orang Maluku). Mereka segera minta untuk membawanya pergi, namun ia tetap berkeras untuk tinggal disitu dan terbakar bersama gereja. Diluar masa sudah semakin beringas dan berteriak-teriak untuk masuk dan membakar gereja. Beberapa petugas tersebut kemudian memaksa untuk membawa orang tua tersebut (yang kemudian teridentifikasi sebagai bpk. Yohanes Takaria) melalui jalan belakang gereja. Selanjutnya mereka kembali ke depan dan terlihat seorang lelaki berbadan kekar memaksa untuk membuka pintu gereja untuk memeriksa kalau-kalau ada yang berlindung didalamnya untuk dibunuh. Petugas segera membuka pintu, dan ketika ia tak menemukan seorangpun, maka ia memerintahkan untuk segera dibakar. Dengan bensin di jerigen masa penyerang kemudian membakar gereja, yang baru terbakar pada usaha yang ke tujuh. Menurut petugas yang bersangkutan, lonceng gereja kemudian terlihat tak ada lagi, karena telap dilepaskan masa yang naik ke menara lonceng. Selanjutnya mereka menjarahnya pergi entah kemana.

    21. Sementara itu sebagian masa Kariu yang masih bertahan pada
    22. wilayah sekitar lapangan bola, sebagai basis akhir pertahanan semakin terdesak. Menyadari hal itu beberapa diantaranya berteriak lantang "maju, Aboru sudah masuk". Mendengar teriakan-teriakan tersebut masa penyerang segera balik melarikan diri. Kesempatan tersebut dipakai oleh beberapa orang dari masa Kariu yang sedang bertahan, untuk mengundurkan diri masuk hutan melalui jalan keluar yang sama. Sekitar jam 15.00 barulah masa Kariu menemukan 38 saudara dari negeri Aboru yang melintasi gunung untuk membantu mereka. Mereka kemudian disarankan untuk tidak perlu turun lagi ke Kariu karena semua telah selesai, namun mereka tetap melanjutkan perjalanannya ke Kariu. Demikian pula rombongan saudara dari negeri Aboru sekitar 150 orang yang mengambil jalan pintas lainnya, melalui Naira – Hulaliu – melintasi hutan dan turun ke Kariu sekitar jam 16.00, tak lagi menemukan banyak orang di reruntuhan negeri Kariu. Hanya terlihat beberapa wanita Pelau yang sedang mengais-ngais mencari sesuatu pada reruntuhan rumah masyarakat Kariu. Selanjutnya mereka segera kembali ke Aboru setelah menyadari bahwa aparat keamanan telah menguasai bekas lokasi pertempuran.

    23. Beberapa oarang dari masa Kariu ternyata masih secara acak
    24. menyebar dalam negeri yang semakin leluasa dijiati api. Mozes Pattirajawane diantaranya masih sempat menyaksikan Gereja yang terbakar sekitar pukul 14. 30. Tercatat empat orang yang terakhir keluar dari negeri menuju hutan, masing: Berthy dan Fredy Schaduw, Ais Patiasina, dan Dance Pariury. Mereka berlindung diwilayah belakang negeri untuk menyaksikan kehancuran fisik negerinya, sebelum meninggalkan negeri menuju hutan pada sekitar jam 18-18.30.

    25. Selanjutnya masyarakat negeri Kariu yang secara bergelombang
    26. meninggalkan negerinya yang sudah dilahap api, mulai menempuh perjalanan di hutan yang cukup melelahkan, untuk kemudian tiba pada beberapa Negeri tetangga yang beragama Kristen. Sebagian besar dari mereka mengungsi ke Negeri Aboru. Sebagian lain turun ke negeri Hulaliu, dan lainnya ke negeri Wasu. Beberapa dari mereka, khususnya para orang tua ternyata (antara lain Pendeta pensiun bpk. J. Noya dan istri yang terakhir sampai di Aboru) harus menempuh perjalanan hutan tersebut selama empat hari dalam kondisi yg sangat mengenaskan (dalam perjalanan di tengah hujan, setiap dua meter ia harus berhenti karena kakinya bengkak setelah terjatuh), sebelum mereka dievakuasi oleh anggota masyarakat Aboru. Mereka yang lemas dan luka-luka segera memperoleh pelayanan dan perawatan di puskesmas-puskesmas setempat. Sementara yang lukanya parah segera dievakuasi ke RSU Saparua melalui perjalanan laut.

    27. Adapun keempat jenazah yang tak sempat terevakuasi keluar dari

reruntuhan negeri Kariu, telah dimakamkan didalam reruntuhan Negeri Kariu pada hari Selasa, dua hari setelah peristiwa penghancuran tersebut (tuturan saksi mata yang kembali ke kariu untuk mencari beberapa barang yang bisa ditemukan dari antara reruntuhan negerinya).

KESAKSIAN PDT. YOHANES NOYA (85 Thn) TENTANG PERJALANAN MENEMBUS HUTAN MENUJU NEGERI ABORU

Pertama kali kami memutuskan untuk melarikan diri, kami naik ke hutan melalui jalan Naang secara terpencar dan bergelombang. Saya dan istri saya (Ny.Wilhelmina Noya-Huliselan – 83 thn) segera menuju hutan di belakang negeri. Dijalan kami melihat ibu Uling Leatomu (80 thn) disembunyikan anaknya (Mathias) di dalam belukar paku kawat (sejenis belukar berduri yg banyak terdapat di hutan), karena kakinya bengkak. Kami segera menuju kesitu untuk menemaninya bersembunyi. Didalam belukar itu kami duduk dengan diam seperti anak-anak babi yang terjebak, sekalipun begitu tersiksa karena sering tertusuk durinya. Kami saling menasihati untuk tetap diam tak bersuara supaya tak terlihat musuh. Sewaktu anak-anak Aboru yang hendak menolong Kariu kembali melalui jalan disamping belukar, kami segera keluar dan memanggil mereka. Mereka lalu menggendong ibu Uling, karena tak lagi bisa jalan. Sementara kami berdua kemudian tertinggal oleh mereka karena tak mampu berjalan cepat. Kami jalan sambil menangis karena saya terjatuh bergulingan, yang mengakibatkan kaki saya membengkak. Dalam keadaan itu saya dituntun oleh istri saya sambil memegang tongkat. Setiap dua meter kami harus berhenti karena kondisi fisik saya yang demikian. Pada malam itu kami tidur dibawah langit terbuka, bermandikan hujan di hutan Pelau. Kami melewati malam itu tanpa makan ataupun minum, karena kami tak merasa lapar dan haus. Besok paginya kami mulai lagi berjalan, dan bertemu dengan bapak Petrus Pariury (71 thn). Kami berjalan terus sampai malam, dan menginap di walang (rumah hutan) milik kel. Ody Tupalesy. Besok paginya bpk. Petrus mencabut beberapa batang kasbi (singkong) disekitar walang, dan merebusnya bagi kami dengan menggunakan air hujan yang telah ditampung (panci rebusan diambil dari walang). Setelah makan anak-anak bpk. Petrus menjemputnya dari Aboru, karena istrinya telah mencemaskannya di Aboru. Setelah bpk. Petrus pergi bergabung dengan kami ibu Mia Patiasina (79 thn). Kami kemudian melanjutkan perjalanan perlahan karena kondisi fisik kami berempat yang telah lanjut usia dan lemah. Diperjalanan kami bertemu Lili Patiwalapia, yang kemudian membawa kami untuk bermalam di walang milik kel. Endek Riri (orang Aboru). Kami segera menitip pesan untuk dijemput karena kami masih hidup dan telah sangat lemah (sementara itu di Aboru berkembang dugaan bahwa pdt. Noya dan beberapa orang tua lainnya telah meninggal di hutan). Malam itu kami menginap disitu, dan baru besok harinya kami dijemput oleh dua anak Aboru bersama anak mantu kami. Kedua anak Aboru tersebut kemudian membopong saya dan ibu mia, sementara istri saya berjalan bersama ibu Yo Jawa. Kami telah sangat gemetaran saat itu karena kelemahan. Untuk itu kami segera dibawa menuju Aboru, dan kemudian bergabung dengan saudara-saudara lainnya. Saya pribadi sangat bersyukur, karena disisa-sisa umur saya Tuhan masih melayakan saya untuk merasakan penderitaan dunia yang sebenarnya.

Sebagaimana dituturkan pada kami di rumah keluarga J. Saiya-Aboru (yang menampung mereka), ketika kami menengoknya dan mendapatinya berbaring sambil ditunggui istrinya.

JUMLAH KORBAN AKIBAT KERUSUHAN TGL. 14 PEBRUARI 1999 DI DESA KARIU

NO.

NAMA KORBAN

UMUR

L/P

MATI

LUKA

KETERANGAN

MENINGGAL

1

JOHANIS RADJAWANE

L

1

-

Tertembak di kepala

2

DOMINGGUS TUPALESSY

L

1

-

Tertembak di lambung

3

DOLLY TAKARIA (GURU)

P

1

-

Dipotong dengan parang

4

ELIA PATTINASARANY

95 TH

P

1

-

Hangus terbakar

             

LUKA BERAT

1

JOHANIS PATTIRADJAWANE

L

-

1

Potong di Kepala

2

DOMINGGUS MATAHELUMUAL

L

-

1

Tertembak di dada

3

DOMINGGUS PATTIRADJAWANE

L

-

1

Tertembak

4

POLY NANLOHY

L

-

1

Tertembak

5

DOMINGGUS PATTIASINA

L

-

1

Tertembak di Paha

             

LUKA RINGAN

1

RONY LALOPUA

23 TH

L

-

1

Luka BOM

2

KAREL PATTIRADJAWANE

56 TH

L

-

1

Luka Panah

3

MARTUNY MATAHELUMUAL

65 TH

L

-

1

Luka BOM

4

JACOB PATTIWAELLAPIA

20 TH

L

-

1

Luka BOM

5

WELLEM RIRY

40 TH

L

-

1

Luka BOM

6

HANY WERINUSSA

17 TH

L

-

1

Panah

7

SEMUEL RADJAWANE

45 TH

L

-

1

Luka BOM

8

EMPI PATTIRADJAWANE

47 TH

L

-

1

Luka Panah

9

PEMILU PATTIRADJAWANE

17 TH

L

-

1

Luka Panah

10

BUCE NUSSY

10 TH

L

-

1

Luka Panah

11

MARKUS SALAKA

L

-

1

Luka Panah

12

SIMON WERINUSSA

L

-

1

Luka Panah

13

RUDY WATTIMENA

21 TH

L

-

1

Luka Panah

KERUGIAN MATERIAL AKIBAT KERUSUHAN

TGL. 14 PEBRUARI 1999 DI DESA KARIU

NO.

JENIS HARTA BENDA

JLH

RUSAK TOTAL

RUSAK BERAT

KETERANGAN

           

1

RUMAH TINGGAL

267

265

2

 

2

BANGUNAN PEMERINTAH

13

11

2

 

3

GEDUNG GEREJA

2

2

-

Gereja GPM & Gereja Sidang Allah

4

TEMPAT USAHA

3

3

-

 

5

KIOS

19

19

-

 

6

MOTOR DINAS (HONDA)

5

5

   

7

MOTOR HONDA PRIBADI

20

20

   

8

MOBIL PRIBADI

5

5

   

9

MOTOR TEMPEL (Jenis POKPOK)

2

2

-

 

10

MESIN PARUT

7

7

-

 

11

MESIN SENSO

8

8

-

 

12

ANTENE PARABOLA

4

4

-

 

13

TELEVISI

65

65

-

 

14

LONCENG GEREJA

1

-

-

Menara Lonceng Gereja masih utuh namun loncengnya dijarah.

15

UANG/PERHIASAN/PAKAIAN/SURAT-SURAT BERHARGA DAN BARANG LAINNYA

     

Dijarah dan sebagian dibakar

16

TERNAK

     

Dijarah

KLASIFIKASI ANAK-ANAK DI TEMPAT PENGUNGSIAN

Usia 0 – 1 TAHUN : 38 Anak ; L : 18 P : 20

Usia 1 – 5 TAHUN : 93 Anak ; L : 45 P : 48

Anak SD : 193 Anak ; L : 103 P : 90

SLTP : 113 Anak ; L : 51 P : 62

SMU : sampai laporan ini dibuat pendataannya belum selesai

KLASIFIKASI GURU DITEMPAT PENGUNGSIAN

Guru SD : 9 Orang ; L : 4 P : 5

Guru SLTP : 20 Orang ; L : 5 P : 15

Guru SMU : 8 Orang ; L : 3 P : 5

 

 

Ket : Batas Negeri Kariu :

- Sebelah Selatan berbatasan dengan hutan

: Jumlah/lokasi Pengungsian :

- Negeri Aboru : 1.367 orang

- Negeri Hulaliu : 65 orang

- Negeri Wassu : 60 orang

Jumlah pengungsi masih belum dapat dipastikan, karena setiap hari terlihat mobilitas horizontal diantara ketiga wilayah penampungan sementara ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBANTAIAN DI WAIMITAL

BEBERAPA KISAH LEPAS TENTANG PEMBANTAIAN ANAK-ANAK NEGERI HULALIU DI DUSUN WAIMITAL PULAU HARUKU, MINGGU 14 PEBRUARI 1999

INVESTIGATION BY : REV. J. MANUPUTTY

  1. PENDETA NUS PATTINAMA,- Pdt. Jemaat GPM Hulaliu
  2. - Pada tanggal 14 Pebruari 1999, jam 07.15. wit, saya menyuruh Yohanes Taihuttu (sopir mobil Aprilia) pergi ke Negeri Kariu untuk menjemput Pdt. Ary Ayhuan, ketua Majelis Jemaat GPM Kariu – anggota BPK P.P. Lease, untuk membuka secara resmi sidang XVIII Jemaat GPM Hulaliu. Tetapi ketika sdr. Yohanes Taihuttu tiba di dusun Ori, ia melihat banyak orang laki-laki berpakaian putih dan memakai ikat kepala putih, sambil memegang tombak serta parang yang terhunus ditangannya, seraya mengacungkannya tinggi-tinggi. Yohanes langsung memutarkan mobilnya untuk kembali ke Hulaliu dengan kecepatan tinggi. Setibanya di Hulaliu ia memberitahukan bahwa ia dihadang di tengah jalan, sementara itu ia melihat asap tebal mengepul di Jemaat Kariu. Ia berkesimpulan, orang-orang Ory dan Pelau telah menyerang Kariu. Informasi ini segera menyebar ke dalam Jemaat Hulaliu. Maka berkumpullah para pemuda Negeri Hulaliu di Baileo negeri (waktu itu belum dibunyikan lonceng I pertanda ibadah Minggu akan segera dimulai). Setelah saya mengarahkan para pemuda negeri untuk tetap berada dan menjaga diperbatasan negeri Hulaliu, kemudian saya berdoa bersama mereka.

    - Pada jam 07.30 wit, saya berdoa bersama para Majelis Jemaat di Gereja. Setelah itu pada jam 08.00 wit, saya langsung berada di perbatasan negeri untuk mencegah para pemuda hulaliu melewati daerah perbatasan. Selanjutnya saya kembali ke gereja. Bersama majelis Jemaat saya kembali berdoa dengan menggunakan Toga (pakaian jabatan pendeta). Kemudian saya menyuruh beberapa orang untuk menaikan Antena Handy Talky. Melaluinya kami mendengar teman-teman berkomunikasi. Terdengar Berthy Schaduw (dari Kariu) antara lain mengabarkan bahwa sudah25 rumah penduduk Kariu dibakar masa dari Negeri Pelau dan Kailolo.

    - Pada Jam 10.00 terdengar berita dari perbatasan negeri bahwa anak-anak negeri Hulaliu kena tembak peluru petugas.

    21 menit kemudian empat (4) korban luka tembak dievakuasi dari TKP. Mereka antara lain: John Kainama; Dony Noya; Yusuf Birahy; Marthinus Taihuttu.

    - Pada jam 11.00, empat (4) korban luka tembak berikutnya dievakuasi dari TKP. Mereka adalah: Doan (Dominggus) Noya, Stefy Noya, Yanes Leiwakabessy, Yopy Noya. Kedelapan (8) korban ini langsung dibawa dengan speed boat ke saparua untuk dirawat.

    - Pada jam 13.00 mayat Yanes Leiwakabessy (korban. I) yang tak tertolong di Saparua, dikembalikan ke Hulaliu.

    - Jam 13.30 datang informasi dari perbatasan bahwa ada empat (4) mayat dan satu (1) korban luka tembak yang sementara tertahan di Dusun Waimital, dan tak diizinkan oleh petugas keamanan untuk diambil, karena katanya mereka harus menunggu pimpinan mereka hadir dulu di Waimital. Pada saat itu sdr. Brampy Noya (peg. Kanwil kesehatan Propmal) yang melakukan negosiasi tak diizinkan melihat mayat dan korban tembakan. Ke-empat mayat tersebut antara lain : Marthen Tahapary, Christian Noya, Frans Tanate, Agustinus Noya. Sementara korban luka tembak adalah sdr. Rony Huka.

    - Pada jam 14.00 wit, saya bersama Bapak Raja Hulaliu, Sdr. Bram Noya, serta Ketua Klasis P.P. lease – Pdt.Chr.Z.Sahetapy berada di perbatasan untuk bernegosiasi dengan tujuan mengevakuasi mayat dan korban tembak. Kemudian bersama beberapa orang saudara ke Waimital, dan selanjutnya mayat dalam kondisi rusak (karena ditembak dan dipotong) dapat dipulangkan ke Hulaliu.

  3. RONY HUKA (34 tahun), warga Negeri Hulaliu.
  4. Beta masih di rumah ketika berita datang dari arah barat (arah kariu) bahwa Kariu sudah diserang/dibakar. Terdengar bunyi bom dari jauh, kemudian tiang-tiang listrik tanda alarm mulai bunyi. Negeri (Hulaliu) mulai bagoyang (heboh). Katong orang Hulaliu seng (tidak) boleh tinggal diam. Harus keluar par (untuk) bantu basudara (saudara) Kariu. Kemudian beta segera ke Baileo. Disana samua sudah bakumpul (berkumpul) dan pendeta sumbayang (berdoa). Setelah itu kurang lebih 100 orang mulai jalan pertama, dan beta (Rony) yang bawa muka (didepan). Kurang lebih enam kilo katong (kita) bajalang (berjalan). Waktu sampai, dari jauh beta lihat ada tentara deng (dan) polisi duduk di kursi-kursi ditengah jalan di Waimital. Waktu lihat katong datang dorang (petugas) segera angkat kursi-kursi dan atur formasi. Satu tentara deng senjata tinggal badiri (berdiri) di tengah jalan. Sementara dua orang beberapa meter di belakang pada sudut jalan kiri-kanan, duduk dalam posisi siap tembak rata (datar) ke arah katong (kita). Katong maju terus, lalu beta lihat ada kayu melintang di jalan, depan petugas yang berdiri (jaraknya sekitar 2 mtr). Beta lihat polisi dan anggota yang lain berdiri dibelakang dorang tiga, lalu masuk ke arah utara (pesisir) dan selatan (hutan). Sementara itu beta lihat masa dari Waimital mulai campur dengan petugas di belakang dorang tiga. Salah satu dari masa tarik tangan mau lempar bom, tapi kemudian seng jadi. selanjutnya petugas yang berdiri lalu bilang, seng boleh lewat batas ini (kayu). Beta sorong (masuk) saja, lalu dia mundur dan kasih tanda deng tangan supaya beta mundur. Dia pung (punya) senjata su mulai kasih turun ke arah beta. Beta lihat dia punya nama Sangaji (orang Rohomoni). Dia bilang, "mau mundur atau tidak". Beta jawab "silahkan tembak". Katong dua punya jarak sekitar 2 mtr. Lalu dia bilang "katong (kita) jamin seng ada apa-apa di Kariu". Beta lalu bilang "Pak lihat diatas tuch asap (arah kariu). Dia seng jawab, lalu anak-anak ngamuk, ketika dengar tembakan mulai bunyi banyak. Beta rasa skot (tembakan) pica (pecah/bunyi) mulai di pantai. Tiba-tiba beta lihat Sangaji kena panah wayer (anak panah dari batangan besi kecil, sekitar 15 cm yg biasanya ditembakan dengan katapel karet) dua kali berturut-turut di dada kanan. Dia lalu berusaha untuk cabut anak panah deng tangan kiri, sementara tangan kanan kasih aba-aba untuk tembak. Lebih kurang satu menit kemudian dua tentara yang duduk membidik di belakang lepas tembakan. Beta lalu dengar anak-anak Hulaliu di belakang beta berteriak "Kena", "Basa" (kena sasaran). Ketika beta balik muka untuk lihat, ternyata Marthin Tahapary sudah jatuh kurang lebih satu meter dibelakang beta. Kemudian beta dengar satu bom meledak. Bunyi tembakan beruntun disana-sini. Anak-anak mulai lari mundur sambil tolong yang luka. Beta lalu ke pinggir jalan arah ke pantai, dan sambunyi badan/berlindung di belakang batang pohon pule yang roboh. Tembakan semakin gencar. Kemudian beta lihat Agus Noya roboh kena tembak di jalan, lebih kurang 10 meter dari beta. Selanjutnya yang terkahir beta lihat Chris Noya tertembak roboh. Sementara Chris roboh, Dominggus (kakaknya) yang ada di sabalah (samping) dia tunduk polo (peluk) rapat. Pada saat itu beta lihat petugas deng masa Waimital (orang-orang Buton, Ory, dan Pelau) datang, lalu petugas tendang dia sementara masa Waimital mulai potong disamping petugas. Beta lihat dia angkat tangan untuk tangkis parang. Disaat itu beta keluar ke jalan raya untuk mundur. Ketika beta mulai buka langkah menuju arah Hulaliu, Sangaji langsung tembak pas (tepat) kena kemaluan dari belakang (bawah paha). Beta langsung jatuh di pinggir jalan, dan sempat angkat muka lihat dia (Petugas Sangaji). Saat itu lalu beta punya mata mulai tertutup karena rasa kram dan sakit. Beta dengar masa datang banyak, dan ada yang bilang "dia masih hidup". Kemudian terdengar petugas perintah "kasih keluar dia". Beta kemudian rasa masa seret dari tangan dan taruh beta terlentang di jalan raya. Karena sakit beta sempat buka mata, dan melihat sangaji datang. Dia kemudian tendang beta dengan boot tentara dari leher sebelah kiri. Kemudian dia tendang satu kali lagi sambil berteriak "kamorang ka" (kalian ya!). Beta buka mata lagi dan lihat dia berdiri di atas. Waktu putar muka sempat beta lihat Hengky Kainama kurang lebih 30 meter ke arah Hulaliu. Sempat beta kasih syarat untuk tolong beta. Beta lalu lihat Sangaji ambil beta punya lenso (saputangan) merah (biasa dipakai untuk ikat di kepala) yang jatuh, lalu dia pergi deng masa. Kemudian empat orang datang, lalu dua orang angkat beta di kaki dan dua orang di tangan. Dorang seret beta macam babi satu ekor, lalu bawa ke perkampungan Waimital, agak ke pantai (posisi awal berdiri di jalan raya, yang membentang didepan perkampungan penduduk dusun waimital). Seng lama kemudian dorang bawa empat korban lain yang kena tembak dan jejer (diletakan berjejer) disamping beta. Panas (matahari) mulai tinggi dan beta sempat dengar dorang bilang "kasih tinggal kafir itu bagitu, sampai dia mati". Dorang kira nanti beta mati pelan-pelan. Saat itu beta sempat buka mata sedikit, lalu beta lihat Abu (anak dusun Ory), beta punya teman main bola, datang dan bilang "anak ini dari Nusalaut. Dia biasa main bola deng katong. Dia kaweng (kawin) di Hulaliu dengan ibu guru. Beberapa waktu kemudian beta dengar ada apel pasukan, sambil hitung satu, dua, tiga. Kemudian dengar komandan teriak nama satu habis satu. Beta sempat dengar dia teriak "Noya", "Siahaya". Beta paksa buka mata dan lihat Brimob ada apel di jalan, kurang lebih satu meter dari beta. Beta punya hati besar karena tahu di pasukan yang baru datang ada anak Hulaliu, yang kebetulan beta punya maitua (istri) punya saudara. Beta lalu paksa panggil pelan-pelan "Dance!" (petugas brimob Dance Noya). Dia kaget dan datang, lalu sempat tanya dia punya beberapa saudara. Beta jawab "seng ada". Beta lalu bilang "jang pi (pergi) tinggal beta, cepat cari perawatan sebab beta sudah seng kuat lai (lagi)". Kemudian beta sempat dengar seperti Dance ada baku malawang (berbantah) dengan orang. Beta sempat dengar dia bilang "yang mati tinggal mati, katong kasih selamat yang hidup dulu". Mangkali (kemungkinan) Dance panggil bantuan dari Hulaliu, karena tiba-tiba Bram Noya datang bawa bendera putih yang ada gambar palang hijau. Dia menangis dekat beta dan minta izin dari petugas untuk angkat beta. Kemudian dorang angkat beta dan bawa pulang ke Hulaliu. Di perjalanan beta punya mata sudah mulai gelap, lalu seng sadar lagi. waktu sadar beta sudah ada di RSU Saparua sini.

    (ket: Waktu kami datang dari Ambon bersama tenaga medis dan obat-obatan tambahan pada jam 24. 30 wit (senin dinihari), ditemukan Rony masih belum sadar di RSU Saparua).

  5. DOMINGGUS & STEFY NOYA (18 thn), kakak beradik warga Hulaliu, saudara dari CHRISTIAN NOYA almarhum.
  6. - Tuturan Dominggus/Duon & Stefy : Kabar datang beta, Chris deng anak-anak sekitar 10 orang masih di rumah kosong (rumah kosong yang dipakai untuk posko anak-anak). Tiba-tiba dengar teriakan berulang-ulang "perkara su jadi" (peristiwa sudah terjadi). Waktu katong lihat, sopir oto (mobil) bilang "su ada asap di kariu". Beta langsung pulang ke rumah dan minta mama biking (buat) teh soalnya mau pi (pergi). Di rumah beta dengar tiang-tiang listrik su bunyi. Beta keluar lagi dan lihat masa sudah banyak di jalan. Beta balik lagi ke rumah, lalu mama bilang "minum teh dolo", tapi beta seng bisa minum lagi. Chris datang lalu bilang "anak-anak sudah bakumpul (berkumpul) di Baileo par (untuk) sumbayang, jadi turun (pergi) sumbayang dolo (dulu). Chris lalu masuk ke kamar dan kasih bangun stefy sambil bilang "ee, bangun sudah, Pelau su serang". Stefi lalu bangun dan bilang buat mama "biking teh par katong minum dolo". Stefy lalu keluar duduk di pagar, kemudian mama panggil minum teh sama-sama deng Duon dan Chris. Chris kembali bilang "turun sudah, dong (anak-anak) sudah

    bakumpul di Baileo". Chris lalu ambil panah dan pergi diikuti Duon. Stefy masih tinggal sebentar di rumah, lalu siap pergi lagi. Sebelum kasih tinggal rumah stefy bilang buat mama "katong (kakak beradik) pigi par Tuhan saja" (kita pergi buat Tuhan saja). Mama cuma lihat deng muka kasiang (wajah sendu) saja, lalu stefy pergi. Sampai di Baileo beta badiri (berdiri) gabung deng Chris (saudara no.2) dan Duon (saudara tertua). Seng lama kemudian Pendeta datang lalu, kasih bicara dan sumbayang (berdoa). Kemudian katong pi samua (pergi semua). Duon masih pulang dulu ambil parang. Sampai di rumah mama bilang "bajalang bae-bae" (berjalan baik-baik/hati-hati). Beta jawab "mama dorang sumbayang di rumah saja". Beta lalu lari ikut rombongan yang su bajalang di muka/depan. Beta dapat Glen Noya (sepupu) di bagian belakang rombongan, lalu beta tanya "Christian dan Stefy dimana?". Glen jawab "su kamuka" (sudah didepan). Beta deng Glen lalu terobos barisan untuk cari dorang dua. Katong tiga (kakak beradik) seng boleh tapisah (terpisah), supaya kalau ada apa-apa yang lain tahu. Beta lalu lihat dorang dua di barisan depan, dan beta kontrol saja di belakang dorang. Waktu mau sampai di Waimital katong dengar bunyi tembakan su rame (ramai). Katong lari tambah cepat dan waktu sampai di Waimital katong lalu berlindung masing-masing. Dari belakang pohon beta (Duon) lur (intip) ada korban yang jatuh ka balong (jatuh atau belum). Waktu lihat belum ada, beta lalu maju deng anak-anak (katong punya jarak deng petugas yang berdiri di jalan sekitar 10 meter). Beta lalu teriak "petugas seng adil, petugas seng jujur, terbakar di Kariu mengapa seng pi biking aman di sana!". Petugas yang berdiri di jalan jawab "di Kariu aman-aman saja, seng ada apa-apa disana". Tiba-tiba terdengar anak-anak teriak "katong ada yang su basah" (kita ada yang kena tembak). Karena emosi beta masih terus baku malawang (berbantah) deng petugas. Beta seng tahu bahwa anak-anak sudah mulai jatuh di belakang, dan dorang lain sudah mulai mundur seng kasih tau katong di muka (mulai mundur tanpa beritahu kita yang didepan). Chris baku lapis di muka beta (Cris menempel di depan Duon), sementara Stefy sejajar disebelah jalan arah ke pantai. Beta lalu bilang untuk Chris "katong mundur". Katong lalu mundur perlahan, sambil beta lihat Stefy disebelah jalan juga mundur sama-sama. Sambil mundur katong tetap teriak petugas karena seng adil. Saat itu beta lihat tentara sudah maju sambil tembak datar ke arah katong. Tiba-tiba beta lihat Chris jatuh. Beta langsung lompat ke dia, buang parang dan angkat tangan ke petugas sambil bilang "pak saya ampun". Kemudian beta tunduk angkat Christian yang saat itu beta lihat gometar (gemetar). Beta polo dia keras-keras dan cium dia, lalu dia putus" (saya peluk dia keras-keras sambil menciumnya, selanjutnya dia meninggal). Waktu mulai berdiri untuk bawa dia, tiba-tiba beta rasa kena tembakan di kaki. Beta masih coba tahan sakit sambil tetap polo Chris. Disitu beta lihat tentara berdiri kurang lebih empat meter dari katong dua. Dibelakang tentara masa Waimital sudah urung (kerumun) dan teriak berulang-ulang "bunuh dorang". Beta tetap paksa berdiri dan mau pikul Chris untuk lari. Saat itu tentara deng masa sudah sampai, dan langsung dia pukul beta yang ada pikul Chris dengan kolop (popor) senjata dari rusuk kiri. Katong dua langsung jatuh baku tindis (bertindihan). Disaat itu masa Waimital langsung potong dari atas. Beta cuma bisa angkat tangan dua par tada (menangkis) parang. Sementara itu beta tetap berusaha berdiri dengan darah yang sudah malele (meleleh). Petugas tetap lihat saja dorang potong beta dalam jarak sekitar dua meter. Waktu setengah berdiri dorang dobol lagi (potong lagi). Beta tangkis dengan tangan tapi tangan langsung jatuh (lunglai) karena sakit dan berdarah. Petugas kemudian maju dan pukul lagi dengan kolop senjata, tapi salah karena baku tindis (bertindihan) deng masa yang manggurebe (berebutan) mau potong. Menurut Stefy, ketika beta lihat kakak dua jatuh baku tindis di sebelah jalan, beta coba mau menyeberang untuk bantu dorang dua. Tiba-tiba beta rasa paha kram, dan waktu beta lihat ke bawah ternyata paha kiri sudah berdarah kena tembak. Beta langsung turun lagi seret-seret kaki ke pinggir jalan, lalu sembunyi dibelakang pohon pule. Dari situ sambil menangis beta lihat dorang potong Duon disamping petugas. Beta lihat terus sampai waktu Duon talapas (terlepas) dan lari, lalu beta ikut lari juga. Selanjutnya menurut Duon, beta langsung paksa lari seret-seret kaki menuju arah Hulaliu, sementara masa potong dari kepala dan belakang (ada empat bekas bacokan parang di punggung belakang dan kepala). Beta tetap paksa lari seret-seret kaki sambil teriak berulang-ulang "Tuhan, masa mau kasih tinggal sampe katong dua didalam rumah mati !" (maksudnya dua kakak beradik). Sekitar 10 meter lari tiba-tiba beta dengar ada suara di beta punya telinga bilang "turun lari pantai, petugas di pantai sudah mundur". Mendengar itu segera beta menyeberang jalan menuju pesisir. Waktu turun itu beta lihat sekitar seratus meter ada satu petugas pakai kaos sport merah (polisi) lari naik dari pantai ke arah rumah penduduk Waimital. Beta kasih kuat diri untuk paksa lari terus. Menurut Stefy, sementara Duon lari di pantai beta lari dipinggir jalan, sampai tiba-tiba beta lihat izak Noya lari naik dari pantai dan bakudapa(ketemu) beta. Beta langsung bilang dia ‘ Izak beta seng kuat bajalang (berjalan) lai". Lalu dia pikul beta dan lari dengan beta. Sementara dilain pihak menurut Duon, tiba-tiba beta lihat satu anak Hulaliu (Abraham Noya) yang juga lagi lari di depan. Beta kenal dia lalu beta paksa teriak "Abraham ambil beta dolo (dulu), beta mati". Waktu abis teriak mangkali (mungkin) kekuatan sudah abis, lalu beta lihat gelap dan langsung jatuh. Beta dengar kemudian Abraham datang dekat beta lalu menangis dan bilang "Duon, ose masih kuat kaseng. Biking kuat diri lalu katong dua lari". Beta jawab dia putus-putus "Ampi, beta mati ka apa". Beta dengar dia jawab sambil menangis "duon sabar dolo". Beta langsung bilang "jang menangis, sumbayang saja dan minta katong dua kuat sampai di negeri (Hulaliu)". Dia lalu sarut (menyeret) beta dan lari sambil sumbayang (berdoa) keras-keras. Beberapa saat kemudian beta dengar dia teriak "mari dolo, katong angkat Duon, dia sudah seng kuat lai". Beta lalu dengar anak-anak datang dan kemudian pikul beta bawa pulang. Sementara jalan beta minta air, karena badan rasa panas sekali. Beta dengar kemudian dorang bilang "naik kelapa saja". Kemudian dorang bawa kelapa dan kasih minum beta. Beta lalu dengar dorang suruh bongkar rumah kabong (kebun) dan ambil papan rumah untuk pikul beta. Dipihak lain menurut Stefy, Izak pikul beta terus sampai bakudapa rombongan yang pikul Duon. Lalu anak-anak pikul katong dua adik kakak bakuganti terus kalau dorang lelah (dipikul bergantian kalau anak-anak yang pikul kecapaian). Menurut Duon, selanjutnya dorang pikul beta sampai di negeri lalu taruh (letakan) di keluarga Yohanes Noya punya rumah. Beta dengar kemudian mama datang dan menangis di beta punya telinga dengan adik perempuan dua dan laki-laki bungsu (waktu katong mau pergi, adik laki-laki bungsu munta ikut, tapi katong suruh dia balik karena masih kecil). Beta lalu marah dan bilang "jang dorang menangis, sumbayang saja minta kuat". Beberapa saat kemudian beta dengar dorang ambil oto (mobil) dan angkat beta bawa ke pantai untuk terus ke RSU Saparua.

    Ket : Menurut Duon sebagaimana yang dituturkannya pada kami di RSU Saparua ; "Beta kenal tiga (3) orang yang potong beta saat itu". Pertama : SAMAT (petani), asal Buton yang tinggal di Waimital dan kenal baik seperti keluarga sendiri dengan beta. Kedua: LA ILING (nelayan) asal Buton, tinggal di Waimital, dan juga kenal beta baik. Ketiga: LA JONI asal Buton (semua orang kenal dia di waimital maupun di Hulaliu, karena sangat bersahabat dengan orang Hulaliu), juga tinggal di Waimital dan jauh lebih dekat hubungannya dengan beta daripada Samat. La Joni di rumah katong punya keluarga di Hulaliu sudah seperti saudara sendiri. Sampai-sampai dia sudah ikut-ikut panggil papa deng mama par (untuk) katong punya orang tua (saat itu ayah Duon yang lagi menunggunya di RSU, bpk. Markus Noya ikut membenarkan). Menurut Duon semua orang Waimital sangat mengenal dan akrab dengan dia, karena dia selalu mampir dan bergaul erat dengan mereka.

  7. YOPY NOYA (30 thn), warga negeri Hulaliu.

Kurang lebih jam 08.00 beta baru mau mandi untuk persiapan ibadah di gereja. Di jalan beta dengar bunyi bom dua kali berturut-turut. Waktu balik beta dengar kabar dari Pendeta dan supir bahwa Kariu sudah diserang. Waktu itu dalam kampung sudah heboh. Masyarakat lalu bakumpul di baileo Hulaliu, dan mendapat pengarahan dari beberapa orang tua serta Pendeta. Kemudian pendeta berdoa. Katong mulai berangkat menuju Waimital dengan jumlah sekitar 200 orang. Sampai di waimital beta lihat anak-anak di muka sudah sampai. Di jalan ada tentara yang berdiri, sementara polisi berdiri melintang di pesisir pantai. Tentara yang terlihat saat itu lebih kurang 20 orang. Sementara polisi sekitar 7-8 orang. Saat itu di belakang tentara terlihat banyak orang Buton berdiri di tepi jalan dan pesisir pantai sambil pegang parang. Kurang lebih 3-4 orang menari sambil iris-iris (mengiris) badan. Pasti dorang itu anak-anak Pelau, karena biasanya dorang punya adat bagitu. Tifa masjid babunyi (bunyi) terus. Sementara itu tentara mulai maju, dan beberapa tentara di belakang satu yang berdiri di jalan, kasih kode dengan tangan untuk masa Waimital maju di belakang dorang. Waktu tentara suruh anak-anak mundur, anak-anak bilang "bapak dorang jangan jaga disini, tapi di Kariu sana, Kariu sudah terbakar. Dia bilang "seng ada apa-apa di kariu". Anak-anak tanggapi "Katong su dengar di Hulaliu". Tentara jawab lagi "seng ada apa-apa, mundur". Saat itu masa Waimital sudah sekitar 100 orang dijalan raya belakang rombongan petugas. "dorang su tempel balakang petugas" (mereka sudah menempel di belakang petugas). Setelah anak-anak maju terus, tiba-tiba terdengar dua kali bunyi tembakan, lalu diikuti dengar tembakan beruntun yang ramai. Katong lihat petugas sudah tembak rata (datar). Lihat begitu katong mundur sekitar 50 mtr, dan sebagian anak mulai turun dari jalan raya ke pantai. Katong lihat petugas di pantai (utara) berodong sambil mulai tutup (menutup gerak barikade ke arah jalan) sehingga dong punya barisan dari jalan bentuk hurup L. Mundur 50 mtr katong bertahan disitu, sementara petugas yang di jalan sebelah darat (selatan) juga mulai tutup ka jalan (menutup gerak barikade ke arah jalan), sehingga dorang su bentuk huruf U. Petugas yang ada di jalan tetap berdiri, sementara yang di darat dan pantai sudah duduk dan bidik. Sekitar 40 meter di belakang anak-anak barisan muka, Marthen Tahapary roboh tertembak pertama kali. Sekitar setengah menit kemudian Agus Noya basah (tertembak) di barisan muka sebelah kanan jalan. Pada saat yang sama juga Christian Noya roboh (tertembak) di barisan muka sebelah kiri jalan. Waktu itu katong mulai mundur pelan-pelan. Beta lihat Christian punya kakak Duon Noya mau angkat dia, tetapi kena tembak di kaki dan kemudian petugas pukul dia dengan popor senjata di dada. Pada saat yang sama masa Waimital keroyok dia dengan parang. Dia sempat lari tapi dorang potong lagi. Stefy yang bantu dia punya kakak dua kena tembak di kaki juga. Sementara itu Dony Noya kena di pantat tembus depan. Lalu waktu beta mau lari balik ke Negeri (Hulaliu), beta lucu celana (turunkan celana sebagian) dan kasih tunjuk pantat par (untuk) dorang. Tiba-tiba rasa pantat panas, dan ternyata dorang tembak tembus pantat. Beta lalu lari, sementara Yusuf Birahi, Johny Kainama, dan Yopi Leisina kena tembak di tangan kanan. Demikian juga Chris Noya dikaki kanan. Dari belakang baru beta tahu Rony Huka dapat skot (tembak) dari kemaluan.

_________________________________________________________

DATA LENGKAP KORBAN LUKA TEMBAK DAN MENINGGAL DALAM TRAGEDI PEMBANTAIAN DI WAIMITAL

 

  1. KORBAN LUKA TEMBAK :
  2. 1. JHONY KAINAMA

    2. DONY NOYA

    3. YUSUF BIRAHI

    4. DOAN/DOMINGGUS NOYA

    5. STEFY NOYA

    6. YOPY NOYA

  3. KORBAN MENINGGAL :

    1. MARTHIN TAHAPARY (29 Tahun)
    2. Kondisi Jenazah : Luka tembakan di bawah mata kiri (tidak tembus). Luka bakar

      pada tangan kiri, tangan kanan, dan lutut.

    3. YANES LEIWAKABESSY (24 Tahun), meninggal di RSU Saparua siang itu. Kondisi Jenazah : Luka tembakan pada paha kanan (tembus).
    4. AGUS NOYA (19 Tahun)
    5. Kondisi Jenazah : Luka tembakan pada dada kanan (tembus). Potongan memanjang dari mata kiri sampai ke kanan (panjang 20 cm, lebar 2 cm, dalam 5 cm).

    6. FRANS TANATE (42 Tahun)
    7. Kondisi Jenazah : Luka tembakan pada leher kanan tembus belakang leher. Luka tembak pada leher depan (tidak tembus). Luka potong pada leher depan (panjang 10 cm, lebar 10 cm, dalam 10 cm). Luka potong pada kaki kiri (panjang 10 cm, lebar 3 cm, dalam 2 cm).

    8. CHRISTIAN NOYA (21 tahun)
    9. Kondisi Jenazah : Luka tembakan pada dada kiri tembus belakang. Luka potong pada pipi kiri (panjang 15 cm, lebar 10 cm, dalam 10 cm). Luka potong pada kaki kanan (panjang 10 cm, lebar 3 cm, dalam 2cm). Luka potong pada kaki kiri (panjang 3 cm, lebar 2 cm, dalam 1 cm).

    10. MARTHINUS TAIHUTU( 19 Tahun), Meninggal di RSU Saparua malamnya Kondisi jenazah : Luka tembakan menghancurkan rahang bawah kiri dan kanan.